Pemetaan Dan Pengelolaan Penyakit Hawar Daun Bakteri:Penyakit Baru Pada Tanaman Bawang Merah Di Indonesia
2008-03-06
Penyakit hawar daun bakteri pada tanaman bawang merah merupakan penyakit baru di Indonesia, penyakit ini belum ada dalam daftar penyakit pada Karantina Tumbuhan Indonesia dan Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura Departemen Pertanian sampai tahun 2005. Penyakit ini tergolong berbahaya, di luar negeri telah dilaporkan dapat menyebabkan kehilangan hasil antara 10-50 %. Penelitian ini bertujuan untuk: Mengetahui dan memetakan daerah sebaran bakteri Xanthomonas axonopodis pv.allii penyebab penyakit hawar daun bakteri pada daerah sentra produksi bawang merah di Jawa dan Sumatera dan mengetahui karakter morfologis dari isolat Xanthomonas axonopodis pv.allii.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dan laboratorium yang dilaksanakan selama satu tahun. Tahapannya adalah sebagai berikut (1) Penetapan lokasi dan pengambilan sampel. Daerah sampel yang diambil adalah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, (2) Isolasi dan Karakterisasi Xaa dari sampel tanaman bawang merah. Metode yang digunakan adalah metode pengenceran berseri dari sampel tanah dan tanaman bawang merah terinfeksi, (3) Uji Hipersensitivitas. Tanaman indikator yang digunakan untuk uji hipersensitivitas adalah tanaman tembakau (Nicotiana tabaccum) sebagai tanaman indikator yang umum.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit ini telah menyebar di daerah sentra produksi bawang merah di Indonesia yaitu Sumatera Barat (insidensi 20,4% - 76, 5%, severitas 25,2% - 85,5%), Sumatera Utara (insidensi 33,2% - 86,5%, severitas 24,1% - 80,2%), Jawa Barat (insidensi 46,2% - 78,8%, severitas 39,6% - 75,3%), Jawa Tengah (insidensi 56,7 % - 89,4%, severitas 47,8% - 75,7%), Jawa Timur (insidensi 47,8% - 94,5%, severitas 17,1% - 33,4%). Isolat Xaa bersifat gram negatif, koloni pada medium NGA umur 5 x 24 jam berbentuk bulat, sedikit cembung, berwarna kuning dan permukaan koloni berlendir, menghasilkan enzim pektinase dan pigmen xanthomonadin. Reaksi hipersensitif dari isolat Xaa memperlihatkan bahwa gejala nekrotik muncul 2 x 24 jam dimana gejala seperti kebasah-basahan (water soaking), sedangkan uji patogenisitas menggunakan varietas rentan, gejala hawar daun bakteri muncul pada hari ke 24.
Peneliti Utama : Zurai Resti, SP,MS
Peneliti Pendukung : Ujang Khairul, Dr,Ir,MS
[ Daftar Bidang Ilmu ] [ Kembali ]
AGENDA
Penandatangan kontrak penelitian Strategis Nasional-TA 2010
23 Juli 2010 09:03:39
Yth.Bpk/Ibu Peneliti Bersama ini kami sampaikan dengan bangga atas berhasilnya Bpkllbu/Sdr, sebag ...
Selengkapnya
